MAKALAH
“BAGAIMANA MELAKSANAKAN LESSON STUDY”

Dosen Pengampu :
Dr. Drs. Jodion Siburian, M. Si.
Kelompok 3
Disusun Oleh
1. Enjelina Sinaga (A1C418045)
2. Wulan Mayalita (A1C418046)
3. Yustitia Primadona (A1C418063)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2021
KATA PENGANTAR
Puji syukur patutlah kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik dan selesai tepat pada waktunya. Makalah ini membahas tentang “Bagaimana Melaksanakan Lesson Study” yang bertujuan supaya mahasiswa dapat memahami bagaimana melaksanakan lesson study sekaligus untuk memenuhi tugas mata kuliah Lesson Study yang diampu oleh Bapak Dr. Drs. Jodion Siburian, M. Si.
Makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya tidak lepas dari kerja sama antar anggota kelompok tiga dalam menyelesaikan tugas ini. Untuk itu penulis menyadari bahwa masih banyak kesalahan dalam penyusunan laporan ini, baik dari segi EYD, kosa kata, tata bahasa, etika maupun isi. Oleh karenanya penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca sekaligus untuk kami jadikan sebagai bahan evaluasi. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca. Terimakasih dan selamat membaca.
Jambi, 13 Februari 2021
Penyusun
DAFTAR ISI
2.1 Siapa yang Melaksanakan Lesson Study
2.2 Bagaimana Melaksanakan Lesson Study
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sampai saat ini pembangunan pendidikan nasional belum mencapai hasil sesuai yang diharapkan. Terutama terkait dengan masalah pemerataan akses dan kualitas pendidikan. Secara eksternal, komponen masukan pendidikan yang secara signifikan berpengaruh terhadap rendahnya mutu pendidikan di Indonesia antara lain; ketersediaan pendidik dan tenaga kependidikan yang belum memadai secara kuantitas dan kualitas, sarana dan prasarana belajar yang belum tersedia dan belum didayagunakan secara optimal dan proses pembelajaran yang belum efisien dan efektif. Untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, yang salah satunya melalui peningkatan kompetensi guru, pemerintah Indonesia melaksanakan berbagai bentuk pelatihan guru. Saat ini di Indonesia sedang dikembangkan dan diimplementasikan upaya peningkatan profesionalisme guru melalui suatu kegiatan yang disebut lesson study. Lesson Study ditujukan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan kompetensi guru melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan, lesson study bukan metode pembelajaran.
Di Jepang, sejak kurang lebih 20 tahun lalu, telah dikembangkan suatu cara sistematis yang dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Kebiasaan tersebut tergambar sebagai berikut. Seorang guru yang mempunyai inovasi pembelajaran, seperti strategi, metode, media, atau sumber belajar yang baru, akan ”membuka” kelasnya, mengundang beberapa guru lain (sejawat) untuk menyampaikan idenya. Beberapa guru tersebut selanjutnya mengembangkan persiapan pembelajaran yang baik untuk mengimplementasi ide guru tersebut. Selanjutnya guru tersebut melaksanakan pembelajaran berdasarkan rencana pembelajaran yang telah dikembangkan, sementara guru yang lain mengamati proses pembelajaran. Segera setelah kelas berakhir, sekelompok guru tersebut berdikusi terkait praktik pembelajaran yang telah dilakukan dan mereka amati. Diskusi dimaksudkan untuk menemukan sisi lebih dan kurang sebagai dasar untuk mengembangkan pembelajaran berikutnya. Apa yang dilakukan sekelompok guru tersebut adalah proses lesson study. Apa yang dimaksud dengan lesson study? Pada makalah ini akan diuraikan mengenai pengertian lesson study, manfaat yang bisa diperoleh, langkah-langkah lesson study, dan sebagainya.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka didapat rumusan masalah sebagai berikut:
1. Siapa yang melaksanakan Lesson Study?
2. Bagaimana melaksanakan Lesson study?
1.3 Tujuan
1. Dapat mengetahui siapa yang melaksanakan Lesson Study
2. Dapat memahami bagaimana melaksanakan Lesson Study
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Siapa yang Melaksanakan Lesson Study
Berdasarkan Undang-undang nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen Pasal 1 bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Dari definisi tentang guru tersebut, kita dapat memahami bahwa pekerjaan sebagai guru telah diakui sebagai sebuah profesi. Oleh karena itu, seorang guru dituntut melakukan pekerjaannya secara profesional. Untuk dapat bekerja secara profesional, seorang guru harus memahami kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh guru sebagai acuan dalam melaksanakan tugas. Zainal Aqib (2010:103) menyatakan bahwa ada sepuluh kemampuan dasar profesionalisme guru dalam melaksanakan tugas.
Berdasarkan Undang-undang nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen Pasal 1 ayat 4 bahwa yang dimaksud dengan profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi.
Menurut Meister dalam bukunya True Professionalism sebagaimana dikutip oleh Suparlan (2005:180), “Professionalism is predominantly an attitude, not a set of competencies.” Jadi profesionalisme sama sekali bukan masalah kompetensi melainkan semata-mata masalah sikap guru untuk mau dan mampu menjadi guru yang profesional melalui upaya pengembangan dan pembinaan guru dengan satu sistem yang mengutamakan profesionalisme. Sesuai dengan pengertian profesionalisme di atas, maka diperlukan pembinaan profesi dengan sistem yang tepat serta mengutamakan proses profesionalisme. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sudah banyak mengadakan program pembinaan profesi guru dengan metode dan model yang sangat bervariasi. Namun yang lebih penting dari itu adalah motivasi dari guru sendiri dalam meningkatkan profesionalismenya. Kegiatan lesson study hadir sebagai salah satu alternatif model pembinaan profesi pendidik dan tenaga kependidikan dalam rangka mendorong para guru untuk dapat meningkatkan profesionalisme dengan sistem kegiatan yang mengutamakan profesionalisme. Dikatakan demikian karena yang menjadi fokus dalam kegiatan lesson study adalah masalah pengkajian pembelajaran. Pengkajian pembelajaran merupakan faktor yang penting dalam meningkatkan profesionalisme karena setiap pembelajaran yang dilaksanakan akan mengalami berbagai hambatan yang tentunya diperlukan proses pengkajian.
Lesson study adalah sebuah kegiatan kolaborasi yang melibatkan berbagai pihak, yaitu guru, kepala sekolah, pengawas, dan stakeholder yang lainnya. Model atau tipe kegiatan lesson study sangatlah tergantung pada siapa pelaku yang melakukan kegiatan lesson study tersebut. Jika lesson study yang dikembangkan berbasis sekolah (konaikenshu), maka orang-orang yang melakukannya adalah semua guru dari berbagai bidang studi di sekolah tersebut serta Kepala sekolah. Lesson study dengan tipe seperti ini dilaksanakan dengan tujuan utama untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar siswa menyangkut semua bidang studi yang diajarkan. Model pelaksanaan kegiatan lesson study ini banyak dilaksanakan di negara Jepang. Karena kegiatan lesson study meliputi perencanaan, pelaksanaan, dan refleksi, maka setiap guru terlibat secara aktif dalam ketiga kegiatan tersebut. Dalam setiap langkah dari kegiatan lesson study tersebut, guru memperoleh kesempatan untuk melakukan identifikasi masalah pembelajaran, mengkaji pengalaman pembelajaran yang biasa dilakukan, memilih alternatif model pembelajaran yang akan digunakan, merancang rencana pembelajaran, mengkaji kelebihan dan kekurangan alternatif model pembelajaran yang dipilih, melaksanakan pembelajaran, mengobservasi proses pembelajaran, mengidentifikasi hal-hal penting yang terjadi dalam aktivitas belajar siswa di kelas, melakukan refleksi secara bersama-sama atas hasil observasi kelas, serta mengambil pelajaran berharga dari setiap proses yang dilakukan untuk kepentingan peningkatan kualitas proses dan hasil pembelajaran lainnya. Walaupun lesson study model/tipe ini secara umum hanya melibatkan warga sekolah yang bersangkutan, dalam pelaksanaannya dimungkinkan untuk melibatkan pihak luar, misalnya para ahli dari universitas atau undangan yang diperlukan karena kedudukannya.
2.2 Bagaimana Melaksanakan Lesson Study
Berkenaan dengan tahapan-tahapan dalam Lesson Study ini, dijumpai beberapa pendapat. Menurut Wikipedia (2007) bahwa Lesson Study dilakukan melalui empat tahapan dengan menggunakan konsep Plan-Do-Check-Act (PDCA). Sedangkan Bill Cerbin dan Bryan Kopp dari University of Wisconsin mengetengahkan enam tahapan dalam Lesson Study, yaitu:
1. Form a Team: membentuk tim sebanyak 3-6 orang yang terdiri guru yang bersangkutan dan pihak-pihak lain yang kompeten serta memilki kepentingan dengan Lesson Study.
2. Develop Student Learning Goals: anggota tim memdiskusikan apa yang akan dibelajarkan kepada siswa sebagai hasil dari Lesson Study.
3. Plan the Research Lesson: guru-guru mendesain pembelajaran guna mencapai tujuan belajar dan mengantisipasi bagaimana para siswa akan merespons.
4. Gather Evidence of Student Learning: salah seorang guru tim melaksanakan pembelajaran, sementara yang lainnya melakukan pengamatan, mengumpulkan bukti-bukti dari pembelajaran siswa.
5. Analyze Evidence of Learning: tim mendiskusikan hasil dan menilai kemajuan dalam pencapaian tujuan belajar siswa
6. Repeat the Process: kelompok merevisi pembelajaran, mengulang tahapan-tahapan mulai dari tahapan ke-2 sampai dengan tahapan ke-5 sebagaimana dikemukakan di atas, dan tim melakukan sharing atas temuan-temuan yang ada.
Berkenaan dengan tahapan-tahapan lesson study ini, Slamet Mulyana di dalam Akhmad Sudrajat (2009) menjelaskan bahwa, dengan merujuk pada dan konsep Plan-Do-Check-Act (PDCA), di bawah ini akan diuraikan secara ringkas tentang empat tahapan dalam penyelengggaraan Lesson Study.
1. Tahapan Perencanaan (Plan)
Pada tahap perencanaan, para guru yang tergabung dalam lesson study berkolaborasi untuk menyusun RPP yang dirancang dengan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Perencanaan diawali dengan kegiatan menganalisis kebutuhan dan permasalahan yang dihadapi dalam pembelajaran, seperti: kompetensi dasar, cara membelajarkan siswa, mensiasati kekurangan fasilitas dan sarana belajar, dan sebagainya, sehingga dapat ketahui berbagai kondisi nyata yang akan digunakan untuk kepentingan pembelajaran. Selanjutnya, secara bersama-sama pula dicarikan solusi untuk memecahkan segala permasalahan ditemukan. Kesimpulan dari hasil analisis kebutuhan dan permasalahan menjadi bagian yang harus dipertimbangkan dalam penyusunan RPP, sehingga RPP menjadi sebuah perencanaan yang benar-benar sangat matang, yang didalamnya sanggup mengantisipasi segala kemungkinan yang akan terjadi selama pelaksanaan pembelajaran berlangsung, baik pada tahap awal, tahap inti sampai dengan tahap akhir pembelajaran.
2. Tahapan Pelaksanaan (Do)
Pada tahapan pelaksanaan ini, terdapat dua kegiatan utama yaitu: (1) kegiatan pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan oleh salah seorang guru yang disepakati atau atas permintaan sendiri untuk mempraktikkan RPP yang telah disusun bersama, dan (2) kegiatan pengamatan atau observasi yang dilakukan oleh anggota atau komunitas lesson study yang lainnya (baca: guru, kepala sekolah, atau pengawas sekolah, atau undangan lainnya yang bertindak sebagai pengamat/observer) Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam tahapan pelaksanaan, diantaranya:
a. Guru melaksanakan pembelajaran sesuai dengan RPP yang telah disusun bersama.
b. Siswa diupayakan dapat menjalani proses pembelajaran dalam setting yang wajar dan natural, tidak dalam keadaan under pressure yang disebabkan adanya program Lesson Study.
c. Selama kegiatan pembelajaran berlangsung, pengamat tidak diperbolehkan mengganggu jalannya kegiatan pembelajaran dan mengganggu konsentrasi guru maupun siswa.
d. Pengamat melakukan pengamatan secara teliti terhadap interaksi siswa-siswa, siswa-bahan ajar, siswa-guru, siswa-lingkungan lainnya, dengan menggunakan instrumen pengamatan yang telah disiapkan sebelumnya dan disusun bersama-sama.
e. Pengamat harus dapat belajar dari pembelajaran yang berlangsung dan bukan untuk mengevalusi guru.
f. Pengamat dapat melakukan perekaman melalui video camera atau photo digital untuk keperluan dokumentasi dan bahan analisis lebih lanjut dan kegiatan perekaman tidak mengganggu jalannya proses pembelajaran.
g. Pengamat melakukan pencatatan tentang perilaku belajar siswa selama pembelajaran berlangsung, misalnya tentang komentar atau diskusi siswa dan diusahakan dapat mencantumkan nama siswa yang bersangkutan, terjadinya proses konstruksi pemahaman siswa melalui aktivitas belajar siswa. Catatan dibuat berdasarkan pedoman dan urutan pengalaman belajar siswa yang tercantum dalam RPP.
3. Tahapan Refleksi (Check)
Tahapan Refleksi (Check) ini merupakan tahapan yang sangat penting karena upaya perbaikan proses pembelajaran selanjutnya akan bergantung dari ketajaman analisis para perserta berdasarkan penga-matan terhadap pelaksanaan pembelajaran yang telah dilaksanakan. Kegiatan refleksi dilakukan dalam bentuk diskusi yang diikuti seluruh peserta lesson study yang dipandu oleh kepala sekolah atau peserta lainnya yang ditunjuk. Diskusi dimulai dari penyampaian kesan-kesan guru yang telah mempraktikkan pembelajaran, dengan menyampaikan komentar atau kesan umum maupun kesan khusus atas proses pembelajaran yang dilakukannya, misalnya mengenai kesulitan dan per-masalahan yang dirasakan dalam menjalankan RPP yang telah disusun. Selanjutnya, semua pengamat menyampaikan tanggapan atau saran secara bijak terhadap proses pembelajaran yang telah dilak-sanakan (bukan terhadap guru yang bersangkutan). Dalam menyampaikan saran-sarannya, pengamat harus didukung oleh bukti-bukti yang diperoleh dari hasil pengamatan, tidak berdasarkan opininya. Berbagai pembicaraan yang berkembang dalam diskusi dapat dijadikan umpan balik bagi seluruh peserta untuk kepentingan perbaikan atau peningkatan proses pembelajaran. Oleh karena itu, sebaiknya seluruh peserta pun memiliki catatan-catatan pembicaraan yang berlangsung dalam diskusi.
4. Tahapan Tindak Lanjut (Act)
Pada tahapan ini, dari hasil refleksi dapat diperoleh sejumlah pengetahuan baru atau keputusan-keputusan penting guna perbaikan dan peningkatan proses pembelajaran, baik pada tataran individual, maupun manajerial. Pada tataran individual, berbagai temuan dan masukan berharga yang disampaikan pada saat diskusi dalam tahapan refleksi (check) tentunya menjadi modal bagi para guru, baik yang bertindak sebagai pengajar maupun observer untuk mengembangkan proses pembelajaran ke arah lebih baik. Pada tataran manajerial, dengan pelibatan langsung kepala sekolah sebagai peserta lesson study, tentunya kepala sekolah akan memperoleh sejumlah masukan yang berharga bagi kepentingan pengembangan manajemen pendidikan di sekolahnya secara keseluruhan. Kalau selama ini kepala sekolah banyak disibukkan dengan hal-hal di luar pendidikan, dengan keterlibatannya secara langsung dalam lesson study, maka dia akan lebih dapat memahami apa yang sesungguhnya dialami oleh guru dan siswanya dalam proses pembelajaran, sehingga diharapkan kepala sekolah dapat semakin lebih fokus lagi untuk mewujudkan dirinya sebagai pemimpin pendidikan di sekolah.
Selanjutnya
menurut Indonesia Center for Lesson Study,
lesson study dilaksanankan dalam tiga
tahapan, yaitu: :
1. Plan (Tahap Perencanaan)
Langkah pertama adalah merencanakan suatu pembelajaran (plan) yang akan dilakukan di dalam kelas. Kegiatan ini diawali dengan analisis permasalahan yang dihadapi dalam pembelajaran. Permasalahan dapat berupa materi bidang studi atau bagaimana menjelaskan suatu konsep. Permasalahan dapat juga menyangkut aspek pedagogi tentang metode pembelajaran yang tepat agar pembelajaran berjalan efektif dan efisien atau permasalahan mengenai fasilitas belajar, yakni bagaimana mensiasati kekurangan fasilitas pembelajaran. Selanjutnya guru secara bersama-sama mencari solusi terhadap permasalahan yang dihadapi, selanjutnya dituangkan dalam rancangan pembelajaran atau lesson plan, teaching materials (berupa media pembelajaran dan lembar kerja siswa) serta metoda evaluasi. Pertemuan-pertemuan yang sering dilakukan oleh para guru dalam rangka perencanaan pembelajaran menyebabkan terbentuknya kolegalitas atau kemitraan antara pendidik dengan pendidik lainnya, sehingga tidak ada yang merasa lebih tinggi atau lebih rendah kedudukannya. Mereka berbagi pengalaman dan saling belajar, sehingga melalui berbagai kegiatan dalam rangka kegiatan lesson study ini diharapkan terbentuk situasi mutual learning, yaitu situasi dimana komunitas tersebut dapat saling belajar.
2. Do (Tahap Pelaksanaan)
Langkah kedua dalam lesson study adalah pelaksanaan (Do) pembelajaran untuk melaksanakan rancangan pembelajaran yang telah dirumuskan bersama di dalam kelas nyata. Langkah ini bertujuan untuk menguji coba efektivitas model pembelajaran yang telah dirancang. Dalam kegiatan ini, salah seorang pendidik bertindak sebagai guru, sementara pendidik yang lain bertindak sebagai pengamat (observer) pembelajaran. Kepala sekolah dapat pula terlibat dalam kegiatan ini sebagai pemandu kegiatan dan pengamat pembelajaran Fokus pengamatan dalam lesson study ditujukan pada interaksi para peserta didik, peserta didik-bahan ajar, peserta didik-pendidik, dan peserta didik-lingkungan yang terkait. Para pengamat dapat melakukan perekaman kegiatan pembelajaran melalui video camera atau foto digital untuk keperluan dokumentasi dan bahan studi lebih lanjut. Keberadaan para pengamat di dalam ruang kelas di samping mengumpulkan informasi juga dimaksudkan untuk belajar dari pembelajaran yang sedang berlangsung dan bukan semata-mata untuk mengevaluasi guru model yang tampil.
3. See (Tahap Refleksi)
Langkah ketiga dalam kegiatan Lesson Study adalah melakukan refleksi (See). Setelah pembelajaran selesai dilaksanakan langsung dilakukan diskusi antara guru yang tampil mengajar (guru model) dan pengamat yang dipandu oleh kepala sekolah atau personel yang ditunjuk untuk membahas kegiatan pembelajaran yang telah dilaksanakan. Guru model yang telah tampil mengawali diskusi dengan menyampaikan kesan-kesan dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran. Selanjutnya pengamat diminta menyampaikan komentar dan lesson learnt dari kegiatan pembelajaran yang telah dilaksanakan, terutama berkenaan dengan aktivitas peserta didik. Tentunya, kritik dan saran dari pengamat disampaikan secara bijak dan konstruktif. Sebaliknya, guru model seyogianya dapat menerima masukan dari pengamat untuk perbaikan pembelajaran berikutnya. Berdasarkan masukan dalam diskusi ini, guru dapat merancang pembelajaran berikutnya yang lebih baik. Pada prinsipnya, semua orang yang terlibat dalam kegiatan lesson study harus memperoleh lesson learn, dengan demikian terbangun learning community melalui lesson study.
Tahapan lesson study menurut Lewis dalam Abizar (2017:66-67) ada 6 tahapan yaitu:
1. Membentuk kelompok lesson study yang antara lain berupa kegiatan merekrut anggota kelompok, menyususn komitmen waktu khusus, menyusun jadwal pertemuan, serta menyetujui aturan kelompok.
2. Memfokuskan lesson study pada tiga kegiatan utama. Pertama, menyepakati tema penelitian (research theme) tujuan jangka panjang bagi siswa. Kedua, memilih cakupan materi. Ketiga, memilih unit pembelajaran dan tujuan yang disepakati.
3. Merencanakan perancangan pembelajaran. Hal ini meliputi kegiaatan melakukan pengkajian pembelajaran yang telah ada; mengembangkan petunjuk pembelajaran; sertta meminta masukan dari ahli bidang studi dari luar, entah itu dosen ataupun guru lain yang berpengalaman.
4. Melaksanakan pembelajaran dikelas dan mengamatinya (observasi). Dalam hal ini, pembelajaran dilakukan oleh salah seorang guru anggota kelompok sedangkan anggota yang lainnya menjadi observer. Hal yang dilakukan oleh observer sebatas mengamati sehingga tidak diperkenankan memberikan pengantar terhadap jalannya pembelajaran, baik kepada guru maupun siswa.
5. Mendiskusikan dan menganalisis pembelajaran yang telah dilaksankan. Diskusi dan analisis sebaiknya mencakup instruktur, informasi latar belakang anggota kelompok, presentasi, dan pembahasan data hasil observasi pembelajaran, diskusi umum, komentar dari ahli luar, serta ucapan terimakash.
6. Merefleksikan pembelajaran dan merencanakan tahapan-tahapan selanjutnya. Paada tahap ini, anggota kelompok diharapkan memikirkan langkah yang harus dilakukan selaanjutnya. Apakah keinginan untuk melakukan peningkatan agar pembelajaran menjadi lebh baik, menguji coba dikelas masing-masing, serta mengecek kepuasan angota kelompok terhadap tujuan-tujuan lesson study daan cara kerja kelompok.
Tahapan lesson study juga dikeembangkan oleh Richardson dalam Abizar (2017:68-71) berikut adalah penjelasan 7 tahapan lesson study menurut Richarson:
1. Membetuk sebuah tim lesson study. Tim yang dianjurkan berupa guru sesame bidang, guru berbeda bidang studi, kepala sekolah, komite sekolah, serta ahli pendidikan atau dosen. Semua anggota dibagi menjadi 3 bagian tugas, yakni guru model, observer, serta pembimbing atau pemimpin.
2. Memfokuskan lesson study. Diskusi yang dilakukan tim lesson study membahas karakteristik materi dan siswa, media pembelajaran, serta perangkata evaluasi. Focus yang dibahas membutuhkan kerja sama melalui pertemuan yang intesif agar hasil sesuai dengan tujuan pembelajaran yang diharapkan.
3. Meencanakan rencana pembelajaran. Tim ynag terlibat dalam lesson study merancang apapun yang dibutuhkan dalam pembelajaran. Beberapa hal hal yang perlu dibutuhkan dalam pembelajaran seperti silabus, RPP, materi, alat atau media, lembar evaluasi, serta karakter siswa.
4. Persiapan observasi. Observer bertugas mengamati semua sikap belajar siswa.
5. Melakukan pengajaran dan observasinya. Prosses pembelajaran mengutamakan keaktifan siswa. Maka guru model menggunkan metode, model, dan media pembelajaran yang memberikan stimulus kepada siswa. Aktivitas belajar setiap siswa dari awal sampai akhir diamatai oleh observer dengan menggunakan alat evaluasi yang sudah dirancang.
6. Melaksanakan Tanya jawab atau iskusi pembelajaran. Penerapan lesson study dapat dikatakan berhasil jika menghasilkan pembelajaran dua arah (student centered).
7. Melakukan refleksi dan merencanakan tahap selanjutnya. Kegiatan ini dilakukan sampai ahir. Guru model, observer, dan pembimbing lesson study berkumpul bersama membahas hasil pembelajaran. Semua anggota tim menyampaikan kelebihan dan kekurangan pembelajaran.
Lesson study dikenalkan di Indonesia melalui IMSTEP-JICA yang berbasis pada praktik. Konsep penerapan lesson study menurut Saito dalam Abizar (2017:71) ada tiga tahapan, yaitu perencanaan (plan), pelaksaan (do), dan refleksi (see). Namun, perkembangan saat ini menambahkan satu tahapan, yaitu redesign. Pengguaan empat tahaan biasa diterapkan untuk pembelajaran di pertemuan kedua dan seterusnya. Tahapan dilakukan berulang-ulang oleh guru yang terbentuk dalam komunitas belajar. Jumlah pengulangan ditentukan dari pencapaian tujuan pembelajaran. Pengulangan pada pelaksanna lesson study di kalangan masyarakat memiliki kesamaan dengan penelitian tindakan kelas (PTK/ Classroom Action Research).
Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya bahwa lesson study pada dasarnya meliputi tiga bagian kegiatan yakni perencanaan, implementasi, dan refleksi.
Ø Tahap awal persiapan dapat dimulai dengan melakukan identifikasi masalah pembelajaran yang meliputi materi ajar, teaching materials (hands on), strategi pembelajaran, dan siapa yang akan berperan menjadi guru. Materi ajar yang dipilih tentu harus disesuaikan dengan kurikulum yang berlaku serta program yang sedang berjalan di sekolah, sebelum implementasi pembelajaran berlangsung guru telah memiliki kesiapan yang mantap sehingga proses pembelajaran yang terjadi pada saat lesson study dilaksanakan mampu mengoptimalkan proses dan hasil belajar siswa sesuai dengan yang diharapkan. Selain aspek materi ajar, guru secara berkelompok perlu mendiskusikan strategi pembelajaran yang akan digunakan yakni meliputi pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan akhir.Selain mempersiapkan materi ajar dan strategi pembelajarannya, tidak kalah penting untuk mempersiapkan fihak-fihak yang perlu diundang untuk menjadi observer dalam implementasi pembelajaran yang dilanjutkan dengan kegiatan refleksi.
Ø Sebelum melaksanakan proses pembelajaran, perlu dilakukan pertemuan singkat (briefing) yang dipimpin oleh Kepala Sekolah. Pada pertemuan ini, setelah Kepala Sekolah menjelaskan secara umum kegiatan lesson study yang akan dilakukan, selanjutnya guru yang bertugas untuk melaksanakan pembelajaran hari itu diberi kesempatan mengemukakan rencananya secara singkat. Setelah acara briefing singkat dilakukan, selanjutnya guru yang bertugas sebagai pengajar melakukan proses pembelajaran sesuai dengan rencana.
Ø Proses observasi dalam pembelajaran dari suatu lesson study dapat berjalan dengan baik, maka ada beberapa hal yang harus dipersiapkan baik oleh guru maupun observer sebelum proses pembelajaran dimulai. Sebelum proses pembelajaran berlangsung, guru dapat memberikan gambaran secara umum apa yang akan terjadi di kelas yakni meliputi informasi tentang rencana pembelajaran, tujuannya apa, bagaimana hubungan materi ajar hari itu dengan mata pelajaran secara umum, bagaimana kedudukan materi ajar dalam kurikulum yang berlaku, dan kemungkinan respon siswa yang diperkirakan. Selain itu observer juga perlu diberikan informasi tentang lembar kerja siswa dan peta posisi tempat duduk yang menggambarkan seting kelas yang digunakan.
Pada saat melakukan observasi, disarankan untuk melakukan beberapa hal berikut:
1. Membuat catatan tentang komentar atau diskusi yang dilakukan siswa serta jangan lupa menuliskan nama atau posisi tempat duduk siswa.
2. Membuat catatan tentang situasi dimana siswa melakukan kerjasama atau memilih untuk tidak melakukan kerjasama.
3. Mencari contoh-contoh bagaimana terjadinya proses konstruksi pemahaman melalui diskusi dan aktivitas belajar yang dilakukan siswa.
4. Membuat catatan tentang variasi metoda penyelesaian masalah dari siswa secara individual atau kelompok siswa, termasuk strategi penyelesaian yang salah.
Selain membuat catatan tentang beberapa hal penting mengenai aktivitas belajar siswa, seorang observer selama melakukan pengamatan perlu mempertimbangkan atau berpedoman pada sejumlah pertanyaan.
Ø Kegiatan refleksi harus dilaksanakan segera setelah selesai pembelajaran. Hal ini dimaksudkan agar setiap kejadian yang diamati dan dijadikan bukti pada saat mengajukan pendapat atau saran terjaga akurasinya karena setiap orang dipastikan masih bisa mengingat dengan baik rangkaian aktivitas yang dilakukan di kelas. Dalam kegiatan ini, Kepala Sekolah bertindak sebagai fasilitator atau pemandu diskusi.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kesimpulan dari makalah ini adalah yaitu:
a. Pelaksanaan dari lesson study adalah guru, kepala sekolah, pengawas, dan stakeholder yang lainnya.
b. Lesson study dilakukan dengan tiga tahap yaitu: plan (tahap perencanaan), do (tahap pelaksanaan), see (tahap refleksi).
3.2 Saran
Demikian makalah yang kami buat, semoga dapat bermanfaat bagi pembaca. Kami menyadari bahwa penulis masih jauh dari kata sempurna, kedepannya penulis akan lebih fokus dan details dalam menjelaskan tentang makalah di atas dengan sumber-sumber yang lebih banyak dan dapat dipertanggungjawabkan. Untuk kritik atau saran terhadap penulis juga bisa disampaikan untuk menanggapi kesimpulan dari bahasan makalah yang telah dijelaskan.
DAFTAR PUSTAKA
Abizar, Haris. 2017. Buku Master Lesson Study. Yogyakrta: DIVA press.
Febriyanti, Marwah, dkk. 2013. Pelaksanaan Lesson Study Dalam Perkuliahan Bimbingan Perawatan Anak. INVOTEC. 9(2): 129-144.
Ompusunggu, V D K. 2019. Pelaksanaan Lesson Study dalam Perkuliahan Pengantar Aljabar. UNION: Jurnal Pendidikan Matematika. 7(2): 167-175.
Putri, Idra, dkk. 2013. Pelaksanaan Lesson Study dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Siswa Kelas VII.5 MTsN Lubuk Buaya Padang. Jurnal Bahasa, Sastra dan Pembelajaran. 1(1): 108-117.
Sutowijoyo. 2016. Studi Penerapan Lesson Study Dalam Peningkatan Ektivitas Praktek Pembelajaran Di MTs Negeri Prigen. Jurnal Diklat Keagamaan. 10(4): 295-304.
Komentar
Posting Komentar